Bebek Tegal (Itik Tegal / Itik Branjangan)
Sebagai komoditas peternakan, bebek Tegal dikenal sangat ekonomis karena produktivitas telurnya yang tinggi.

Bebek Tegal (Itik Tegal / Itik Branjangan) merupakan salah satu rumpun itik lokal unggulan asli Indonesia yang berasal dari wilayah Tegal, Jawa Tengah. Bebek ini termasuk dalam tipe itik petelur (layer) yang sangat produktif dan memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa.
Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan nama Itik Branjangan karena warna bulunya yang mirip dengan burung branjangan.
Ciri-Ciri Fisik (Morfologi)
Bebek Tegal memiliki karakteristik fisik yang sangat khas dan mudah dibedakan dari jenis bebek lokal lainnya seperti Bebek Mojosari atau Bebek Bali:
Bentuk Tubuh: Tubuhnya langsing, silinder, dan berdiri tegak hampir menyerupai botol saat berjalan atau waspada. Posisi badannya membentuk sudut sekitar 60° hingga 70° dari tanah.
Kepala dan Leher: Kepala relatif kecil dengan leher yang panjang, langsing, dan sedikit melengkung.
Paruh dan Kaki: Paruh berbentuk panjang dan lebar, biasanya berwarna hitam atau gelap. Kakinya juga panjang dan berwarna hitam kokoh, yang membuatnya sangat lincah saat berjalan jauh di area persawahan.
Warna Bulu: Dominan cokelat motif bintik-bintik (totol) menyerupai burung branjangan. Berdasarkan variasi warnanya, bebek Tegal dibagi menjadi beberapa jenis:
Jarakan: Cokelat gelap merata.
Blorong: Campuran cokelat, putih, dan hitam keabu-abuan.
Lemahan: Cokelat tanah atau cokelat muda.
Karakteristik Produktivitas
Sebagai komoditas peternakan, bebek Tegal dikenal sangat ekonomis karena produktivitas telurnya yang tinggi.
| Atribut Produksi | Detail Spesifikasi |
| Tipe Produksi | Petelur (Utama) & Pedaging (Sampingan/Afkir) |
| Mulai Bertelur | Umur 5,5 hingga 6 bulan |
| Produksi Telur | 200 hingga 250 butir per ekor per tahun |
| Bobot Telur | 65 sampai 70 gram per butir |
| Warna Cangkang | Hijau kebiruan (khas telur asin) |
| Bobot Dewasa | Jantan: 1,5–1,7 kg | Betina: 1,4–1,6 kg |
Keunggulan Bebek Tegal
Daya Tahan Tinggi: Sangat adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem di Indonesia dan relatif tahan terhadap serangan penyakit unggas.
Kemampuan Mengembara (Angon): Bebek ini memiliki insting mencari makan yang kuat. Secara tradisional, peternak memeliharanya dengan sistem angon (digembalakan dari sawah ke sawah setelah masa panen padi) karena fisiknya yang kuat untuk berjalan jauh.
Kualitas Telur Premium: Telur yang dihasilkan memiliki kuning telur yang berwarna jingga pekat (oranye tua). Kadar lemak dan kekentalan kuning telurnya sangat pas, menjadikannya bahan baku terbaik untuk pembuatan Telur Asin Tegal yang terkenal gurih dan masir.
Sistem Pemeliharaan
Seiring berkurangnya lahan persawahan, sistem budidaya bebek Tegal kini mulai bergeser:
Sistem Ekstensif (Tradisional): Bebek digembalakan secara berpindah-pindah memanfaatkan pakan alami di sawah seperti sisa padi, cacing, keong mas, dan serangga kecil.
Sistem Intensif (Modern): Bebek dipelihara penuh di dalam kandang (kandang kering atau kandang dengan kolam terbatas). Pakan disediakan penuh oleh peternak berupa campuran konsentrat, dedak padi, jagung, atau tepung ikan untuk mengejar target produksi telur yang stabil sepanjang tahun.
Catatan Penting: Bebek Tegal merupakan tipe non-goose atau tidak memiliki sifat mengeram. Oleh karena itu, untuk menetaskan telurnya, peternak harus menggunakan bantuan mesin tetas atau dititipkan pada unggas lain (seperti ayam atau entok).
Untuk mendapatkan produksi telur yang maksimal dan stabil (mencapai target 200–250 butir per tahun), kunci utamanya terletak pada keseimbangan nutrisi dan manajemen pemberian pakan.

Berikut adalah panduan lengkap formulasi pakan untuk bebek Tegal yang dipelihara secara intensif (di dalam kandang):
1. Kebutuhan Nutrisi Standar (Fase Bertelur/Layer)
Bebek petelur membutuhkan energi yang cukup, namun yang paling krusial adalah protein untuk memproduksi putih telur dan kalsium untuk pembentukan cangkang telur yang tebal dan kokoh.
Protein Kasar (Crude Protein): 16% – 18%
Energi Metabolis (EM): 2700 – 2900 kkal/kg
Kalsium (Ca): 3,5% – 4,5% (lebih tinggi dari ayam petelur karena ukuran telur bebek lebih besar)
Fosfor (P): 0,6% – 0,8%
2. Pilihan Formulasi Pakan Mandiri (Self-Mixing)
Peternak intensif biasanya mencampur pakan sendiri untuk menekan biaya produksi (feed cost). Anda bisa memilih salah satu dari dua formula alternatif di bawah ini, tergantung ketersediaan bahan di wilayah Anda:
Formula A (Menggunakan Konsentrat Pabrikan)
Formula ini paling praktis, aman secara nutrisi, dan sangat direkomendasikan untuk peternak pemula.
Konsentrat Bebek Petelur (Kode 144 atau sejenisnya): 30%
Jagung Giling Kuning: 40% (sebagai sumber energi utama dan membuat kuning telur berwarna jingga)
Dedak Padi / Bekatul (Kualitas Super/Halus): 30%
Formula B (Memanfaatkan Limbah Lokal – Lebih Hemat)
Jika Anda memiliki akses ke limbah perikanan atau pasar, formula ini bisa memotong biaya pakan secara signifikan.
Jagung Giling Kuning: 35%
Dedak Padi/Bekatul: 35%
Tepung Ikan / Kepala Udang kering: 15% (sumber protein)
Bungkil Kedelai: 10% (sumber protein nabati)
Tepung Kulit Kerang / Grit: 5% (sumber kalsium mutlak untuk kekuatan cangkang)
3. Bahan Pakan Tambahan untuk Meningkatkan Kualitas
Untuk membuat telur bebek Tegal Anda memiliki kualitas “premium” (kuning telur masir dan berwarna oranye pekat khas Tegal), tambahkan bahan-bahan berikut:
Keong Mas / Kupang / Cumi Afkir: Berikan secara berkala (direbus terlebih dahulu). Selain tinggi protein, kandungan karotenoidnya mendongkrak warna kuning telur menjadi jingga tua.
Sayuran Hijau (Kangkung, Eceng Gondok, Daun Mengkudu): Dicacah halus dan diberikan sebagai camilan siang hari. Ini sangat baik untuk pencernaan dan menambah kecerahan warna kuning telur.
Premix (Vitamin dan Mineral): Campurkan sekitar 0,5% – 1% premix toko ke dalam adonan pakan untuk mencegah bebek stres dan menjaga daya tahan tubuh.
4. Manajemen Manajemen Pemberian Pakan (Feeding Management)
Porsi Pakan: Bebek Tegal dewasa fase bertelur membutuhkan sekitar 140 hingga 160 gram pakan kering per ekor per hari.
Frekuensi: Berikan 2 kali sehari, yaitu Pagi (pukul 06.00 – 07.00) sebanyak 40% porsi, dan Sore (pukul 15.00 – 16.00) sebanyak 60% porsi. Pemberian porsi lebih banyak di sore hari sangat penting karena proses pembentukan cangkang telur terjadi pada malam hari.
Tekstur Pakan: Bebek Tegal kurang menyukai pakan yang terlalu kering (berdebu) atau terlalu basah (seperti bubur). Berikan pakan dengan tekstur macak-macak (pera/lembab) dengan menambahkan sedikit air pada campuran pakan kering.
Air Minum: Harus selalu tersedia 24 jam (ad libitum) di dekat tempat pakan, karena bebek memiliki kebiasaan makan lalu langsung minum untuk membasahi paruhnya.
Bebek Tegal ini sangat diminati peternak karena daya tahannya yang luar biasa dan kemampuannya menghasilkan telur berkualitas tinggi.






