Ayam Hutan Hijau (Gallus Varius)
Di beberapa daerah, unggas ini dikenal dengan nama Ayam Alas (Jawa), Cangehgar (Sunda), atau Kasintu

Ayam Hutan Hijau (nama ilmiah: Gallus varius) adalah salah satu spesies Unggas endemik asli Indonesia yang memiliki keindahan visual luar biasa. Berbeda dengan kerabat dekatnya, ayam hutan merah (Gallus gallus) yang menjadi leluhur langsung ayam domestik, ayam hutan hijau memiliki karakteristik fisik, perilaku, dan habitat yang sangat unik.
Di beberapa daerah, unggas ini dikenal dengan nama Ayam Alas (Jawa), Cangehgar (Sunda), atau Kasintu.
Berikut adalah ulasan mendalam dan merinci mengenai taksonomi, ciri fisik, habitat, perilaku, hingga status konservasi dari ayam eksotis ini.
1. Klasifikasi Ilmiah (Taksonomi)
Secara ilmiah, ayam hutan hijau berada dalam famili Phasianidae (keluarga burung berkaki ayam seperti puyuh dan merak). Berikut adalah detail klasifikasinya:
| Tingkatan Takson | Klasifikasi |
| Kerajaan | Animalia |
| Filum | Chordata |
| Kelas | Aves |
| Ordo | Galliformes |
| Famili | Phasianidae |
| Genus | Gallus |
| Spesies | Gallus varius (Shaw, 1798) |
2. Morfologi dan Ciri Fisik yang Memukau
Ayam hutan hijau terkenal karena dimorfisme seksualnya yang sangat kontras—artinya, pejantan dan betina memiliki tampilan yang jauh berbeda.
A. Karakteristik Pejantan (Si Cantik yang Glamor)
Ayam jantan dewasa memiliki panjang tubuh berkisar antara 60–75 cm dengan berat sekitar 0,7 hingga 1,5 kg.
Bulu Tubuh: Bulu di bagian leher, mantel, dan punggung berbentuk oval meruncing, berwarna hijau berkilau (iridesen) dengan tepian hitam, memberikan efek seperti sisik naga atau reptil. Bulu sayap dan ekor berwarna hitam keunguan atau kehijauan yang mengilat saat terkena sinar matahari.
Jengger (Comb): Berbeda dengan ayam rumahan yang jengger berwujud gerigi, jengger ayam hutan hijau berbentuk bulat mulus tanpa gerigi. Warnanya sangat eksotis, perpaduan antara merah muda di bagian dasar, ungu/biru di tengah, dan kuning/hijau di bagian tepi atas.
Gelambir (Wattle): Memiliki satu gelambir tunggal di bagian tenggorokan (bukan sepasang seperti ayam biasa) berwarna merah cerah dengan kombinasi kuning di pangkalnya.
B. Karakteristik Betina (Si Penyamar yang Anggun)
Ayam betina berukuran lebih kecil, sekitar 40–45 cm.
Warna Bulu: Didominasi oleh warna cokelat kusam, garis-garis hitam, dan sedikit warna kekuningan. Warna ini merupakan bentuk kamuflase sempurna untuk bersembunyi dari predator di semak-semak saat mengerami telur.
Jengger & Gelambir: Tidak memiliki jengger dan gelambir yang berkembang (sangat kecil atau bahkan tidak terlihat).
3. Habitat dan Distribusi Geografis
Ayam hutan hijau adalah satwa endemik Indonesia. Mereka tidak ditemukan secara alami di belahan dunia lain kecuali atas hasil introduksi.
Wilayah Penyebaran: Meliputi Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Rinca, Komodo, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya (Kepulauan Nusa Tenggara).
Tipologi Habitat: Mereka lebih menyukai daerah terbuka, tepi hutan, hutan musim, daerah semak belukar, daerah pantai, hingga dekat dengan area pertanian/perkebunan warga. Mereka sangat adaptif di daerah kering dan savana, berbeda dengan ayam hutan merah yang lebih menyukai hutan hujan tropis yang lebat.
4. Perilaku (Behavior) dan Suara
A. Kemampuan Terbang
Satu hal yang paling membedakan ayam hutan hijau dengan ayam peliharaan adalah kemampuan terbangnya. Dengan tubuh yang relatif ringan dan sayap yang kuat, mereka mampu terbang vertikal dan melesat cepat sejauh beberapa ratus meter untuk menghindari predator atau berpindah pohon tempat bertengger (tidur) di malam hari.
B. Struktur Sosial
Mereka biasanya hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2 hingga 5 ekor, dipimpin oleh satu pejantan dominan dengan beberapa betina. Namun, tidak jarang pula ditemukan pejantan yang hidup soliter (menyendiri).
C. Karakter Suara (Kukuruyuk)
Suara kokokan ayam hutan hijau jantan sangat khas dan nyaring. Bunyinya tidak seperti ayam rumahan (“kukuruyuk”), melainkan terdengar seperti:
“Chaw-aw-awk” atau “Cek-krieeek” dengan nada yang melengking tinggi, bersih, dan biasanya hanya terdiri dari dua sampai tiga suku kata pendek.
5. Makanan dan Pola Reproduksi
A. Diet (Makanan)
Ayam hutan hijau adalah hewan omnivora. Di alam liar, makanan mereka meliputi:
Hewani: Serangga (belalang, jangkrik, semut), cacing tanah, kepiting kecil (di habitat pantai), dan reptil kecil.
Nabati: Biji-bijian, pucuk rumput, buah-buahan liar yang jatuh ke tanah, dan beri.
B. Reproduksi
Musim kawin biasanya terjadi antara bulan Juni hingga November (bergantung pada wilayah dan ketersediaan makanan).
Sarang: Betina membuat sarang sederhana di atas tanah, tersembunyi di balik semak tebal atau rumput tinggi.
Telur: Betina menghasilkan 3 sampai 6 butir telur berwarna krem atau putih kotor.
Inkubasi: Telur dierami sepenuhnya oleh betina selama kurang lebih 21 hari. Anak ayam yang baru menetas sudah memiliki bulu kapas yang menyamar dengan tanah dan langsung bisa berlari mengikuti induknya beberapa jam setelah menetas.
6. Hubungan dengan Manusia dan Konservasi
Ayam Bekisar (Hibridisasi)
Ayam hutan hijau memiliki peran budaya yang penting di Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura. Hasil persilangan antara pejantan ayam hutan hijau dengan betina ayam kampung menghasilkan ayam hibrida yang disebut Ayam Bekisar. Bekisar sangat populer karena memiliki suara kokokan yang sangat melengking, bersih, dan khas, serta sering dijadikan objek kontes berharga mahal.
Status Konservasi
Berdasarkan IUCN Red List, ayam hutan hijau saat ini dikategorikan dalam status Least Concern (Risiko Rendah). Populasi mereka di alam liar relatif masih stabil karena kemampuan adaptasinya yang tinggi.
Meski demikian, ancaman nyata tetap ada, antara lain:
Perburuan Liar: Penangkapan menggunakan pikat atau jaring untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan atau bahan persilangan ayam bekisar.
Kehilangan Habitat: Alih fungsi lahan hutan marginal dan semak belukar menjadi area pemukiman atau pertanian intensif.

Mengingat keindahan dan nilainya yang tinggi bagi ekosistem (sebagai pemencar biji-bijian dan pengendali hama serangga), upaya menjaga kelestarian habitat alami ayam hutan hijau di kawasan taman nasional (seperti TN Baluran dan TN Alas Purwo) menjadi sangat krusial.










